Kamis , 19 Juli 2018
Home > Hikmah > Antara Guru, Fasilitator, dan Orang Tua (Part 1)

Antara Guru, Fasilitator, dan Orang Tua (Part 1)

Oleh Yusuf Suharto*

Pendidikan adalah aktivitas yang terjadi sepanjang hayat manusia. Setiap orang mengalami proses pembelajaran ini. Pada mulanya ia menjadi pembelajar, berikutnya ia menjadi pengajar atau pendidik dalam konteks universal. Pun dalam konteks universal, setiap orang adalah pembelajar, yang siap menerima ilmu atau pengalaman orang lain. Imam Ali, sebagaimana dikutip dalam kitab Ta’lim al-Muta’alim menyatakan, “saya adalah hamba dari seorang yang mengajariku walaupun satu huruf”.

Dalam konteks pendidikan saat ini, yang disebut pendidik ini dikenal dengan sebutan guru atau dosen. Jenjang pendidikan ini  dimulai dari Play Group (kelas bermain), TK (Taman kanak-kanak), SD (Sekolah dasar), SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) ,  SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas), dan perguruan tinggi.

Paradigma yang lama percaya bahwa guru itu tugasnya mengajar, dalam pengertian mengajari siswa sebagai objek belajar yang tidak tahu apa-apa atau minim pengetahuan dan pengalaman. Belajar dengan demikian sekedar atau lebih menekankan pada transfer of knowledge saja. Atau dapat disebut belajar itu adalah hanya menekankan aspek kognitif siswa belaka, tanpa mengembangkan afeksi dan psikomotornya.

Sebenarnya paradigm lama ini beralasan juga, jika kita melihat bahwa zaman dahulu itu, fasilitas serba terbatas, apa-apa susah, pendek kata perangkat belajar itu minim. Sehingga adalah pilihan yang paling memungkinkan ketika guru itu memakai metode ceramah belaka dan murid mencatat.

Namun pada masa kini, ketika sumber belajar itu beragam, ketika buku itu bukan satu- satunya sumber belajar, ketika teknologi dan informasi sedemikian berkembang, ada internet, melimpahnya perpustakaan, fasilitas dan sebagainya, maka memakai paradigm yang lama adalah masalah yang besar.

Dus, menjadi pendidik saat ini adalah sinergi yang kokoh antara menjadi guru dalam pengertian mengajari, fasilitator dalam pengertian menyediakan diri untuk berbagi bersama dalam curahan ilmu, dan sekaligus menjadi orang tua yang senantiasa membimbing dan mengarahkan para siswa – siswi. Berikut penjabaran fungsi kependidikan ini secara lebih detail.

Menjadi Guru yang Baik

Pameo Jawa, ‘Guru itu digugu lan ditiru’ yang maknanya adalah guru itu dipercaya dan dibuat percontohan adalah bukti yang kuat bahwa transfer of knowledge  yang dilakukan itu harus bersumber pada nilai bahwa guru itu dalam asalnya harus dapat menjadi teladan sejati para siswa. Jadi menjadi semata- mata guru yang sekedar mengajar, tentu saja tidak cukup. Bukankah ada kalimat  yang berbunyi, ”Jangan kau menggurui”, kalimat ini cenderung memiliki makna yang negatif. Menggurui itu bermakna mengajari semata, bersikap dan bertindak seolah – olah menjadi seorang guru yang hanya mengajari saja, dan mungkin menganggap yang diajak berkomunikasi tidak mempunyai kecakapan pengetahuan.

Menjadi guru yang baik dengan demikian bermakna bahwa bagaimanapun ia adalah sosok yang mengajari, maka kemudian diistilahkan sebagai guru, namun harus ada ajeksi-ajeksi lain yang menyertainya.

Jadi menjadi guru haruslah menggambarkan totalitas kompetensi yang di dalamya ada fungsi kepengasuhan atau sebagai layaknya orang tua, dan di dalamnya  ada fungsi pendampingan, penyertaan dan keterhubungan satu dengan lainnya yang disebut sebagai fasilitator.

Fasilitator

Fasilitator adalah istilah Inggris yang telah di Indonesia kan. Ia bermakan bahwa guru juga harus berfungsi sebagai pemberi fasilitas atau melakukan fasilitasi. Guru menjadi penjembatan yang baik di depan para siswanya. Dalam fungsinya ini guru lebih banyak melakukan sharing belajar, atau bisa disebut belajar bersama. Ketika guru menyampaikan kompetensi dasar sebuah mata pelajaran, ia tidak akan mengeksplorasi pelajaran itu, ia hanya memancing pengetahuan yang ia yakin telah diketahui oleh para siswanya. Kumpulan – kumpulan pengetahuan itu ketika dicakupkan akan menjadi sistematika pengetahuan yang luar biasa.

Dalam hal ini murid tidak dipandang sebagai semata objek pembelajaran, tetapi ia adalah subjek pembelajaran itu sendiri, dan bahkan guru harus siap terbuka untuk mengalami pembelajaran bersama.

 

BERSAMBUNG…

Antara Guru, Fasilitator, dan Orang Tua (Part 2, end)

* Sekretaris Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jombang dan Dosen FAI Univ Darul ‘Ulum Jombang.

 

Baca Juga

Ijazah KH Bisri Syansuri

Denanyar.or.id. -Setelah jamaa,ah sholat magrib. KH. Imam Haromain -pengasuh asrama sunan ampel- memberikan ijazah yang ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *