Kamis , 19 Juli 2018
Home > Hikmah > Antara Guru, Fasilitator, dan Orang Tua (Part 2, end)

Antara Guru, Fasilitator, dan Orang Tua (Part 2, end)

Orang Tua

Orang tua adalah fungsi pembelajaran yang bermakna bahwa guru harus dapat berfungsi sebagai orang tua yang  baik dan bijaksana. Guru tidak hanya bertanggung jawab menuntaskan standar minimal penilaian suatu kompetensi dasar atau bahkan keseluruhan materi bahan pembelajaran. Tetapi ia harus ikut mendampingi aspek sikap dan perubahan perilaku yang diharapkan dari peserta didik.

Fungsi sebagai orang tua ini dilandasi bahwa secara nyata usia guru tentu di atas para siswa, sehingga diharapkan ia dapat menanamkan nilai-nilai kebaikan pada para peserta didik, dapat melindungi kepentingan bersama,  memberi  teladan dan memotivasi para siswa untuk berbuat sesuatu yang positif.

Sinergi Tiga Fungsi

Ketiga fungsi ini ketika bersinergi, maka akan terlihat bahwa pendidikan itu tidak sesempit yang dibayangkan sementara orang, bahwa pendidikan itu hanya berfungsi sebagai pengajaran semata. Namun, sebenarnya pendidikan itu bertujuan membebaskan dan bersifat setara.

Bukankah lebih baik ketika para siswa itu telah lulus, ia bahkan lebih pintar, lebih kompeten dari gurunya sendiri dan dengan demikian sang guru merasa berhasil mendidik mereka?

Adalah kekerdilan ketika guru menutupi pengetahuan, atau pura – pura tahu, walau sebenarnya tidak tahu. Sejatinya, guru yang merdeka adalah ketika muridnya dimerdekakan dari belenggu- belenggu rutinitas yang membosankan.

Menghafal materi penting keagamaan tentu saja bukanlah hal cela, bahkan ia adalah kompetensi yang dianjurkan oleh agama. Tetapi hendaknya guru dapat lebih memilih variasi metode. Dalam hal ini teori kontrukstivis dapat diterapkan di samping teori belajar sosio kultural.

Teori konstruktivis mengandaikan bahwa siswa belajar dari bangunan-bangunan pengalaman hidupnya yang kemudian dimatangkan dalam pembelajaran bersama. Dengan demikian, adalah tugas guru bersama para siswa untuk mengkonstruk pemahaman bersama, sehingga suatu pembelajaran dapat dicapai.

Teori sosio kultural mengandaikan bahwa siswa hadir dalam pembelajaran yang tidak kosong realitas. Setiap individu pembelajar telah memiliki pengalaman – pengalaman unik dalam pergulatan sosial kulturalnya. Ketika ia melihat ada banyak ketimpangan sosial yang terjadi di sekelilingnya, maka ia diharapkan dengan pembelajaran yang terkait itu agar dapat menyelesaikan realitas sosial yang timpang di hadapannya.

Nah, pola pembelajaran sinergis yang mendayagunakan fungsi kepengasuhan dan pendampingan ini adalah pola yang memungkinkan peran-peran pembelajaran yang kritis dan transformatif dapat diaplikasikan.

Murid dengan demikian tidak belajar dalam kerangka teoritis belaka. Tetapi ia belajar aplikatif. Terkait dengan pembelajaran yang aplikatif ini penulis teringat ketika salah seorang siswa penulis yang baru saja studi banding di beberapa sekolah yang ada di Singapura beberapa waktu yang lalu, menyatakan dengan terus terus pada penulis bahwa pembelajaran yang dihadapinya di Indonesia ini lebih banyak teoritis dari pada aplikatif. Ia kemudian membandingkan pembelajaran yang diterapkan Singapura, yang menurutnya pembelajaran di sana lebih aplikatif, menyentuh persoalan- persoalan yang nyata.

Dalam kesempatan lain dia juga menyatakan bahwa pembelajaran banyak guru itu tidak dihubungkan dengan pengembangan karakter, dan dalam konteks keagamaan, tidak atau belum menyentuh kesadaran iman para murid.

Guru katanya, lebih sibuk menyelesaikan ketuntasan kompetensi dasar secara teoritis, namun abai dalam pembinaan karakter dan peneguhan keimanan. Sehingga hal ini menyebabkan kegersangan spiritualitas para siswa. Ketika mereka belajar materi Pendidikan Agama, maka yang didapatkan adalah ulasan- ulasan dan doktrin agama semata, tetapi belum berhasil menyentuh qalbu para siswa.

Saya terpana oleh keterusterangan dan keberanian semacam ini, sesuatu yang tidak dapat saya bayangkan terjadi pada tahun 90- an lalu, ketika saya masih menjadi siswa SMP. Keberanian dan kejujuran, dan yang lebih penting kritik ini, menurut penulis tidak mungkin atau sulit terjadi ketika suasana pembelajaran diformat secara kaku. Ketika relasi guru dan murid sebatas hubungan antara pemberi pengetahuan dan murid sebagai objek yang diberi pengetahuan.

Sepanjang ini saya memang berusaha mengkombinasikan antara tiga fungsi kependidikan itu, sebagai guru yang sekaligus sebagai fasilitator (bahkan dalam makna sebagai teman), dan sebagai orang tua.

Saya kira dengan hadirnya era keterbukaan dan demokratis saat ini, sinergi tiga hal tersebut adalah niscaya. Sebagai teman belajar (fasilitator), penulis kadang atau bahkan kerap disuguhi pengetahuan yang belum diketahui. Kadang pula ketika penulis menyebutkan sesuatu, mereka dapat mengoreksi ketika ternyata apa yang penulis sampaikan adalah hanya satu variasi pendapat, dan mereka menyajikan pendapat lain yang dalam kerangka teoritis sedang diuji oleh masa atau zaman, yang mana di antara berbagai variasi itu yang benar atau yang mana yang paling dirasa benar.

Nah, semangat menerima perbedaan, dan kemudian  mengakuinya sebagai realitas adalah hal penting juga harus terus ditanamkan pada para siswa.

Jika dahulu kita merasa efektif untuk menyeragamkan segala hal atas nama ketertiban, kesatuan, yang dalam hal ini sikap ini membuat kita tidak siap menerima perbedaan yang diyakini orang lain. Lihatlah, ketika atas nama mayoritas segelintir anak bangsa kita nistakan dan kita beri perlakuan kekerasan, seperti kasus teror dan pembungkaman politik zaman orde baru, dengan menculik para aktivis dan golongan yang berbeda.

Bukankah itu menyalahi prinsip kebhinekaan kita,”Bhineka Tunggal IKA (berbeda – beda tetapi tetap satu jua), dan dengan sendirinya itu mengingkari pasal Pancasila,’ Persatuan Indonesia’ dan ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan’.

Adalah tuntutan zaman, dan sebuah kebenaran yang sesuai dengan jiwa Pancasila kita bersama, bahwa keberagaman ini adalah keniscayaan sejarah dan kenyataan kekinian dari masyarakat Indonesia. Orang banyak menyebut paham ini sebagai pluralisme, sebagaimana dicontohkan oleh Gus Dur  (KH. Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI).

Atas pandanganya yang menghargai keberbedaan dan melindungi  kaum minoritas ini beliau disemati gelar Guru Bangsa dan Bapak Pluralisme. Lihatlah, dua istilah itu yang terkait dengan pembahasan kita ini. ‘Guru bangsa’ maknanya adalah orang yang mengajari rakyat bangsa ini untuk menjadi rakyat yang baik dalam menjaga kesatuan bangsanya. Dan ‘Bapak Pluralisme’, sebagaimana pernah dinyatakan Presiden RI saat ini, Susilo B. Yudhoyono dan juga banyak rakyat Indonesia, antara lain oleh Amien Rais dan Syafi’i Ma’arif. Istilah ‘Bapak’ di sini adalah peran atau fungsi ‘orang tua’ yang mengajari dan membimbing masyarakat untuk menghargai keberbedaan atau pluralitas.

Akhirnya , marilah kita bersama sebagai guru mantap untuk memilih dan mengubah paradigma lama kita, dari yang sekedar semangat mengajari menuju semangat mengajari, mendidik, menemani dan mebimbing para peserta didik kita menjadi manusia yang beriman, amanah, unggul, kritis, dan transformatif untuk mengembalikan kejayaaan negeri ini seperti dulu pada masa Majapahit dan era revolusi, ketika semua unsur bangsa bahu membahu mengusir penjajahan. Saat ini penjajahan itu adalah individualisme, materialisme dan bentuk- bentuk neo imperialisme yang menggerogoti kebangsaan dan nasionalisme kita.

Baca Juga

Ijazah KH Bisri Syansuri

Denanyar.or.id. -Setelah jamaa,ah sholat magrib. KH. Imam Haromain -pengasuh asrama sunan ampel- memberikan ijazah yang ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *