Rabu , 20 Juni 2018
Home > Cerpen > Bercermin Pada Waktu

Bercermin Pada Waktu

Sudah sekitar tiga bulan lamanya, Anak penjual gorengan itu tiap sore selalu berdiri diatas kursi bekas yang usang di sisi luar jendela ruang kelas. Tubuhnya yg kurus semampai tak cukup mampu menggapai rongga jendela teralis besi. Kedua kakinya berdiri mencoba menyeimbangkan badannya yang sedikit lusuh. Tangan kirinya masih menggenggam erat keranjang tempat menjajakan daganganya pada anak-anak usia sebayanya. Tangan kananya merengkuh erat teralis berkarat yang setiap sore ia genggam. Baju yang melekat pun aku rasa bekas dia pakai pagi tadi di sekolah dasar disimpang jalan. Ada bekas rajutan sulam tak terarah yang menempel, pada bagian lengan kiri, aku yakin itu bentuk kasih sayang dari ibunya.

“Gubraakkk…” kursi reot itu tak mampu lagi menopang badan anak itu. Keranjang yang ia pegang tak ubahnya laksana barang panas dihempaskan begitu saja. Sembari kesakitan dia beranjak dari puing-puing kursi reot. Lalu duduk dilantai menundukan kepalanya. Gemetar serta isak tangis kian menggebu memecah konsenterasi dalam kelas. Hanya ketakutan yang terwakilkan dalam isak tangis dan gemetar tubuhnya.

Pak Dirman yang sore itu mengajar dalam ruang kelas bergegas keluar mendekati suara suara isak tangis. “Masya Allah, apa yang terjadi Nak?”. Hanya jawaban tangis yang terucap dari anak itu. Aku terheran dengan Pak Dirman, lekaki kelahiran 1959 itu berhasil  menenangkan isak tangis yang pecah.
“Sudah nak, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?”. Sentuhan tangan lekaki tua itu begitu mujarab meredakan suasana.
“Aku takut pak, maaf,,,” kata anak itu.
“Apa yang kau takutkan, Nak?” Kata Pak Dirman.
“Aku setiap sore berdiri dikursi ini, pak. melihat kedalam ruang kelas, aku mencuri ilmu dari bapak. Maafkan aku pak”, ucapan penuh sesal yg diucapkan. “aku iri sama teman-teman bisa ikut mengaji, sedangkan aku, aku tidak bisa pak. Orang tuaku tidak mampu untuk… “. “Sudahlah nak” potong Pak Dirman. Beberapa sorot mata dari dalam kelas seakan penasaran, mereka berdesakan ingin mengetahui apa yg terjadi dibalik jendela kelas.

“Ayo, nak silahkan masuk ke kelas, kalau ingin ikut mengaji dengan mereka” pinta Pak Dirman. Rupanya Pak Dirman sudah lama memperhatikan tiap sore dibalik teralis besi, selalu ada sosok yang penasaran dengan pelajaran Diniyah sore. Aku mulai berfikir, ternyata penjelasan kitab fasholatan Pak Dirman didalam kelas sanggup membius anak kecil kelas 3 Sekolah Dasar tiap sore bergelayut di kursi tua tuk meraih bibir jendela yang tinggi. Yang kesehariannya menjajakan jualannya di sekitar pesantren ini.

Subahannalloh, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).

“العلم في الصدور لا في السطور.”

(Tamat)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *