Minggu , 17 Desember 2017
Home > Kolom > Keragaman itu Indah, Asal tak Saling Menegasikan

Keragaman itu Indah, Asal tak Saling Menegasikan

Denanyar.or.id -Suatu ketika dalam rangka penggalian data untuk penulisan buku Biografi Kiai Bisri Syansuri, kami sowan ke Rais ‘Aam PBNU, KH. Sahal Mahfudz.

Di antara pertanyaan kami kepada beliau adalah, “Apakah ada titik tekan yang berbeda, bahwa jika Mbah Wahab itu lebih ke Ushul, dan Mbah Bisri itu lebih ke fikih?”

Jawaban Kiai Sahal ketika itu,”Kedua beliau itu sama-sama ahli fikih. Namun, Mbah Wahab lebih suka fikih yang longgar.”

Ini menjadikan kita bercermin bahwa adalah keniscayaan ada yg cenderung ketat seperti Mbah Bisri Syansuri, dan ada yg memilih lebih longgar seperti Mbah Abdul Wahab Hasbullah.

Bagaimana perbedaan di antara kedua Kiai yg menjadi Rais ‘Aam ini, kerap diceritakan Gus Dur, antara lain dalam beberapa kesempatan Haul KH. Bisri Syansuri di Denanyar.
Kedua beliau saling menghormati dan bahkan rebutan saling menopang air wudhu, dan rebutan saling menata sandal.

Pjs (penanggungjawab sementara) Rais ‘Aam, KH. Mustofa Bisri menggambarkan, bahwa Kiai Wahab itu ibarat Sayyidina Abi Bakr, dan Mbah Bisri itu ibarat Sayyidina Umar Ibn Khattab.

Demikianlah akhlak para ulama yang para beliau ini arif dalam menghadapi perbedaan. Karena memang perbedaan beliau itu ada dalilnya masing-masing.

Kami setuju, agar sesama NU, kita harus hati-hati melabeli sesama NU dengan NU Liberal, NU Syiah, NU GL. Ada kaedah masing-masing, ada ukuran masing-masing.
Jika kepada di luar NU kita bisa memahami, maka di dalam internal NU adalah lebih pantas untuk saling memahami.

*Mohon koreksi, Al-Faqir Yusuf Suharto.

Baca Juga

Kiai Bisri Syansuri dan Ulama Jombang tentang Hormat Bendera Merah Putih

Denanyar.or.id -Ketika masyarakat menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang dikaitkan dengan pandangan keagamaan, para ulama Nahdlatul Ulama selalu ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *