Minggu , 17 Desember 2017
Home > Hikmah > Keteladanan KH. Bisri Syansuri

Keteladanan KH. Bisri Syansuri

Mbah Hasyim, Mbah Wahab, dan Mbah Bisri, dan yang sesamanya itu mempunyai ciri yang sama. sekarang anda tinggal melihat saja, apakah ada kiai, ustadz yang memiliki ciri yang sama dengan ketiga tokoh tersebut.

ciri-ciri itu, pertama, kiai-kiai seperti Mbah Bisri, Mbah Hasyim, Mbah Wahab itu, keilmuanya dapat dipertanggungjawabkan sampai hari kiamat. beliau-beliau itu, kala mengatakan Rasulullah bersabda, misalnya: “innamal a’malu bin niat”, beliau mempunyai pintu-pintu atau sanad hingga yang sampai kepada Rasulullah. Karena itu, anda kalau sempat membaca Mukaddimah Qanun Asasi Hadratus Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari, para kiai NU, pada waktu itu disebut sebagai pintu-pintu masuk ilmu.

dalam pandangan saya (KH. A. Mustofa Bisri-red) Kalau Mbah Bisri bisa mengurutkan hal itu (sanad keilmuan-red). Dari Guru-gurunya, guru-gurunya lagi, sampai amirul mu’minin, Umar bin Khatab, sampai Rasulullah, sampai Malaikat Jibril, sampai Rabbuol ‘Izzah. Sebagai contoh, Kiai Bisri mengajarkan kitab Ihya’ Ulumudin misalnya, beliau punya pintu-pintu silsilah keguruan sampai ke syeikh Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali Attusi. demikian seterusnya.

Kemudian ciri kedua, yandhuruna ilal ummah bi ‘ainir rahmah (melihat umat manusia dengan kaca mata kasih sayang). Kiai-kiai seperti Hadratus Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syansuri itu, mempunyai mata kasih sayang kepada umat. Karena itu, saya selalu mengatakan di mana-mana, meskipun, sorbanya gembelo sak ban truk (sebesar ban truk), tapi, kalau dia tidak punya kasih sayang kepada umat, ora sudi aku ngundang kiai (saya tidak sudi menganggapnya sebagai kiai). ungkap KH. A. Mustofa Bisri.

Pimpinan idola KH. A. Mustofa Bisri itu semuanya berperilaku yanduruna ilal ummah bi ‘ainir rahmah. karena beliau-beliau itu adalah tokoh-tokoh yang berusaha sekuat tenaga untuk memirip-miripkan dirinya dengan pemimpin agungnya; yakni Rasulullah SAW. karena itu, beliau-beliau, termasuk Kiai Bisri Syansuri. Jika ada orang bodoh, beliau-beliau mau dan rela untuk mengajarnya, mendidiknya dan tidak dibayar. Jika ada persoalan dari umat, baik masalah keagamaan ataupun masalah-masalah waqiah (kekinian), beliau-beliau pun menjawab dan bukan asal jawab.

Ketiga, kelanturan. Di sini ada istilah “Tegas berfiqih, lentur bersikap”. itu maksudnya, tegas kepada diri sendiri, lentur kepada orang lain. Mbah Bisri tegas untuk dirinya sendiri, hati-hati sekali untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Tapi, untuk orang umum, beliau sangat lentur. Itu juga ajaran fiqh. Bukan berarti melanggar keilmuan fiqh yang didalaminya. Beliau mengikuti Rasulullah yang menyabdakan yassir walaa tuasir (buatlah mudah, dan jangan dipersulit).

Begitu tegas, pada saat prinsip itu menuntut sikap tegas. Kemudian hal yang tak kalah pentingnya, bahkan sangat penting, adalah keteladanan. keteladanan adalah pengalaman ilmu. Kiai-kiai yang disebutkan tadi, termasuk Mbah Bisri Syansuri, menganggap bukan ilmu namanya, jika ilmu itu tidak diamalkan. dan itu menjadi teladan.* Semoga kita bisa meneladai keteladanan kiai-kiai, termasuk Kiai Bisri Syansuri. Amin.

  • disadur dari ceramah KH. A. Mustofa Bisri dalam acara bedah buku “Kiai Bisri; Tegas Berfiqih, Lentur Bersikap (Cetakan Pertama)” yang   diselenggarakan oleh panitia satu abad PP. Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang di Aula PWNU Jawa Timur, pada tanggal 1 Februari 2015.
  • Daftar Pustaka; Shohib, Abdussalam, dkk. Kiai Bisri Syansuri Tegas Berfiqih, Lentur Bersikap. Jombang: Adea, 2015.

Baca Juga

Ijazah KH Bisri Syansuri

Denanyar.or.id. -Setelah jamaa,ah sholat magrib. KH. Imam Haromain -pengasuh asrama sunan ampel- memberikan ijazah yang ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *