Minggu , 17 Desember 2017
Home > Kolom > Memahami Islam Nusantara; Perspektif NU (bag 1)

Memahami Islam Nusantara; Perspektif NU (bag 1)

Oleh : Yusuf Suharto (pengajar di Pondok Denanyar)

Pembuka.

Denanyar.or.id -Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang Jawa Timur pada 01-05 Agustus 2015 mengambil tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Bagi penggagasnya, ide ini datang bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam.

Agus Sunyoto, salah seorang budayawan NU menyatakan bahwa Islam yang datang di Nusantara berasal dari berbagai negara di penjuru dunia seperti Cina, Campa, India, Persia, Arab, Mesir, Maroko, dan Asia Tengah, di mana masing-masing penyebar Islam tersebut membawa pengaruh kebudayaannya yang diasimilasikan dengan kebudayaan yang sudah ada di Nusantara, terutama kebudayaan yang berlatar kepercayaan lama Kapitayan. Proses asimilasi dan bahkan sinkretisasi ajaran agama sebagaimana terjadi di Nusantara, hanya mungkin terjadi ketika Islam disiarkan oleh kalangan ulama tasawuf yang sangat longgar dalam menyampaikan pemahaman agama kepada masyarakat dibanding ulama fiqih yang cenderung skripturalis. Itu sebabnya, James L. Peacock (1978) menyatakan bahwa Islam yang datang di Nusantara adalah Islam sufi yang dengan mudah diterima masyarakat nusantara.

Dengan mengetahui latar historis perkembangan Islam di Nusantara dapatlah difahami kenapa Islam di Nusantara memiliki corak yang berbeda dengan Islam yang ada di negara-negara lain. Itu berarti, Islam Nusantara yang dicirikan oleh tradisi keagamaan yang khas, dalam ranah sejarah merupakan Islam yang dibangun di atas pluralitas dan multikulturalitas agama-agama dan budaya antara bangsa yang berbeda satu sama lain. Ke-bhinneka-an amaliah peribadatan yang diterima sebagai keniscayaan tradisi keagamaan—dengan mengacu pada prinsip ushuliyah mempertahankan nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik—Islam Nusantara tumbuh dan berkembang dalam eksistensinya di tengah arus sejarah peradaban manusia.

Dalam pasang dan surut perkembangan Islam di Indonesia telah terjadi pelbagai peristiwa yang terkait dengan kekurang-fahaman terhadap eksistensi Islam Nusantara yang dianggap penuh bidah, takhayul dan khurafat serta praktek-praktek syirik dari agama pagan. Reaksi para ulama yang berusaha mempertahankan eksistensi Islam Nusantara dari serangan sistematis itulah yang pada tahun 1926 mewujud dalam organisasi sosial keagamaan Nahdlatoel Oelama alias NO (Agus Sunyoto, 2013).
Pemaknaan Islam Nusantara
Terma Islam Nusantara terdiri dari dua suku kata, yakni Islam dan Nusantara. Islam bermakna patuh, tunduk, pasrah, mematuhi perintah, dan menjauhi larangan secara total. Allah SWT menamakan agama yang paling mulia di sisi-Nya tersebut dengan nama Islam karena ia adalah agama yang mengajarkan para pemeluknya untuk patuh dan tunduk terhadap semua perintah Tuhan secara total, ikhlas dalam ibadah hanya kepada-Nya, dan mengimani semua firman-firman-Nya (Abdullloh, tt:144). Sedangkan Nusantara sendiri berarti sebutan bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia (KBBI, 2002:789).
Untuk memahami istilah Islam Nusantara, antara lain bisa didekati dengan ilmu nahwu yang biasa dikaji di pesantren ataupun lembaga keislaman. Dengan ilmu itu kita memahami bahwa istilah Islam Nusantara terdiri dari dua kata yang digabung menjadi satu, atau dalam kamus santri dinamakan idhofah yaitu penyandaran suatu isim kepada isim lain sehingga menimbulkan makna yang spesifik, kata yang pertama disebut mudhoaf (yang disandarkan) sedang yang kedua mudhaf ilayh (yang disandari).
Imam Ibnu Malik, pakar nahwu dari Andalusia Spanyol menyatakan:

نُوناً تَلِي الإعْرَابَ أو تَنْوِينَا # ممّا تُضِيفُ احْذِفْ كَطُورِ سِينَا
وَالثَّانِيَ اجْرُرْ وانو من أَوْ فِي إذا # لَمْ يَصْلُحِ الّا ذَاكَ وَالّلامَ خُذَا
لِمَا سِوَى ذَيْنِكَ واخصص أولا # أو أعطه التعريف بالذي تلا

Yang artinya, “Terhadap Nun yang mengiringi tanda irob atau tanwin dari pada kalimah yang dijadikan mudhaf, maka buanglah! demikian seperti contoh: t{u>r si>na> jar-kanlah! lafazh yg kedua (mudhaf ilayh). Dan mengiralah makna min atau fi,  bilamana tidak pantas kecuali dengan mengira demikian. Dan mengiralah makna lam pada selain keduanya (selain mengira makna min atau fi). Hukumi takhsi{>s{ bagi lafal yg pertama (mudhaf) atau berilah ia hukum tari>f sebab lafal yg mengiringinya (mudhaf ilayh).

Dari teori di atas dapat dipahami bahwa istilah Islam Nusantara merupakan gabungan kata Islam yang berarti agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad serta kata Nusantara yang dalam KBBI merupakan sebutan (nama) bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Penggabungan ini bertujuan untuk mencapai makna yang spesifik. Namun penggabungan kata ini masih menyisakan berbagai pemahaman, karena sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Malik di atas, bahwa penggabungan (idhafah) harus menyimpan huruf jar (harf al-hafd) yg ditempatkan antara mudhaf dan mudhaf ilayh untuk memperjelas hubungan pertalian makna antara mudhaf dan mudhaf ilayh-nya. Huruf-huruf simpanan tersebut berupa min, fi dan lam. Peng-idhafah-an dengan menyimpan makna huruf min mendaya fungsi lil-bayan (penjelasan) apabila mudhaf ilayh-nya berupa jenis dari mudhaf. Teori ini tidak bisa diaplikasikan pada susunan Islam Nusantara, karena nusantara bukan jenis dari kata Islam, jika dipaksakan akan memunculkan pemahaman bahwa Islam Nusantara merupakan Islam min (dari) Nusantara, padahal kenyataannya Islam hanya satu yaitu agama yang dibawa oleh Rasul akhir zaman. Peng-idhafah-an dengan menyimpan makna huruf lam berfaedah kepemilikan atau kekhususan (li-milki, li-ikhtisas). Memahami dengan teori ini akan memunculkan takhsis terhadap Islam, Islam untuk orang nusantara, padahal realitanya Islam adalah agama yang universal, bukan agama yang khusus untuk golongan atau bangsa tertentu. Sedangkan idhafah dengan menyimpan makna huruf fi berfaedah li-zarfi apabila mudhaf ilayh-nya berupa zaraf bagi lafal mudhaf. Teori ini merupakan yang paling tepat digunakan dalam memahami term Islam Nusantara, karena sebagaimana disebut di atas kata nusantara merupakan nama bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia, artinya Islam fi Nusantara, agama Islam yang berada di nusantara, yaitu agama Islam yang dibawa oleh Nabi yang diimani oleh orang-orang nusantara. Makna kata Islam di sini tidak terreduksi karena di-idhafah-kan dengan kata nusantara, karena hubungan antara mudhaf-mudhaf ilayh di sini sebatas menunjukan spesifikasi tempat atas mudhaf ilayh.

Dengan demikian ketika PBNU dalam buku Panduan Muktamar menjelaskan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang khas ala Indonesia, gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air, tepatlah pemaknaan ini. Aneka definisi atau pemaknaan Islam Nusantara berikut ini juga menguatkan pemaknaan bahwa Islam Nusantara itu adalah Islam yang berada (fi) di nusantara, bukan hanya untuk (li) nusantara, apalagi Islam dari (min) nusantara. Faris Khoirul Anam (2015) menyebutkan beberapa kutipan pemaknaan Islam Nusantara, berikut ini:

Islam Nusantara itu hanya casing (bungkus). Isinya adalah Islam Ahlussunnah Wal-Jama’ah an-Nahdliyyah al’ ma ‘alayhi al-muassisun (Islam Ahlussunnah Wal-Jama’ah ala NU seperti yang diletakkan oleh para pendiri NU). Jadi bukan berarti mengkotak-kotakkan. Tidak ada perubahan, bukan Islam yang lain. (KH. Dr. Maruf Amin).

Islam Nusantara sama sekali bukan madzhab baru, bukan firqah baru, bukan aliran baru. Islam Nusantara merupakan khasais wa mumayyizat (kekhususan dan keistimewaan). Tipologi, sebagai khasais wa mumayyizat menjadi ciri khas Islamnya orang-orang Nusantara, yaitu laku Islam yang melebur secara harmonis dengan budaya Nusantara yang sesuai dengan panduan shara, segala macam adat istiadat, tradisi, yang tidak melanggar batas-batas shara, tidak hanya diperbolehkan, namun bahkan digunakan sedemikian rupa, untuk dakwah Islam di bumi Nusantara. (Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj).

Islam Nusantara adalah pemahaman, pengamalan, dan penerapan Islam dalam segmen fiqih muamalah sebagai hasil dialektika antara nash, shari’at, dan urf, budaya, dan realita di bumi Nusantara. (KH Afifuddin Muhajir).

Islam Nusantara adalah Islam Indonesia yang meliputi sejak masuknya Islam ke nusantara. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka, universalitas ajaran Islam yang telah berdialog dengan budaya dan peradaban eksisting kenusantaraan kemudian melahirkan ekspresi dan manifestasi umat Islam Nusantara. (Prof. Dr. M. Isom Yusqi).

Islam Nusantara adalah cara dakwah demi kemaslahatan, bukan bermaksud mengingkari ajaran. Berdakwah sesuai taqlid (tradisi), adat (adat), taklif (jenis pembebanan hukum), taqat (kemampuan) manusia yang di masing-masing daerah berbeda, serta heterogenitas berbeda. Mirip pluralitas, bukan pluralisme, tapi sesuatu yang pertimbangannya untuk yang paling maslahat bagi nilai-nilai hablun minallah, maupun hablun minannas. (KH. A. Marzuki Mustamar).

Islam Nusantara bukan untuk mengkotak-kotakkan Islam, bukan firqah atau kelompok baru, namun metodologi dakwah yang sesuai dengan ciri khas dan budaya masyarakat. (KH. Abdurrahman Navis).

Lebih lanjut, PBNU menyebutkan karakter Islam Nusantara sebagai kearifan lokal di Nusantara yang tidak melanggar ajaran Islam, namun justru mensinergikan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia. Kehadiran Islam tidak untuk merusak atau menantang tradisi yang ada. Sebaliknya, Islam datang untuk memperkaya dan mengislamkan tradisi dan budaya yang ada secara tadriji (bertahap). Bisa jadi butuh waktu puluhan tahun atau beberapa generasi. Pertemuan Islam dengan adat dan tradisi nusantara itu kemudian membentuk sistem sosial, lembaga pendidikan (seperti pesantren) serta sistem Kesultanan. Tradisi itulah yang kemudian disebut dengan Islam Nusantara, yakni Islam yang telah melebur dengan tradisi dan budaya Nusantara (PBNU, Buku Panduan Muktamar).

Pimpinan tertinggi, Rais Aam PBNU KH. Maruf Amin menegaskan, Islam Nusantara adalah cara dan sekaligus identitas Aswaja yang dipahami dan dipraktikkan para pendiri (muassis) dan ulama NU. Oleh karena itu, dalam pengertian Islam Nusantara yang diusung ketua MUI ini ditambahkan kalimat sesuai yang diletakkan oleh para pendiri NU (ala’ ma ‘alayhi al-muassisun).

Baca Juga : Memahami Islam Nusantara Bag 2

Baca Juga

Kiai Bisri Syansuri dan Ulama Jombang tentang Hormat Bendera Merah Putih

Denanyar.or.id -Ketika masyarakat menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang dikaitkan dengan pandangan keagamaan, para ulama Nahdlatul Ulama selalu ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *