Minggu , 17 Desember 2017
Home > Kolom > Memahami Islam Nusantara; Perspektif NU (bag 2)

Memahami Islam Nusantara; Perspektif NU (bag 2)

Oleh : Yusuf Suharto (pengajar di Pondok Denanyar)

Makna dan Posisi Tradisi

Tradisi adalah sesuatu yang terjadi berulang-ulang dengan disengaja, dan bukan terjadi secara kebetulan. Al-Jurjany dalam al-Tarifat mendefiniskan dengan, “adat adalah suatu perbuatan atau perkataan yang terus menerus dilakukan manusia lantaran dapat diterima akal dan secara kontinyu manusia mau mengulanginya”.

Imam Al-Suyuuti mendefinisikan,

ما اعْتاد النّاسُ وسارُوا عليْهِ فِي أُمُورِ حياتِهِمْ ومُعاملاتِهِمْ مِنْ قوْلٍ أوْ فِعْلٍ أوْ ترْكٍ

Apa yang menjadi kebiasaan manusia dan mereka melawati kehidupan dan muamalat mereka dengan hal itu, baik berupa perkataan, perbuatan atau hal yang ditinggalkan (Al-Suyuti, al-Ashbah wa al-Nazair, 64).

Meskipun Islam datang dengan seperangkat aturan yang telah lengkap, namun demikian Islam tidak serta merta mengabaikan tradisi yang ada di masyarakat. Dalam ilmu Ushul Fiqh, tradisi menjadi salah satu patokan dalam penentuan hukum Islam hingga akhirnya lahirlah kaidah العَادَةُ مُحَكَّمَة (adat istiadat itu mempunyai nilai hukum). Karena itulah melanggar tradisi masyarakat dianggap hal yang tidak terpuji selama tradisi tersebut tidak diharamkan oleh agama. Dalam hal ini Syekh Ibn Muflih al-Hanbali, berkata:

وَقَالَ ابْنُ عَقِيلٍ فِي الْفُنُونِ لَا يَنْبَغِي الْخُرُوجُ مِنْ عَادَاتِ النَّاسِ إلَّا فِي الْحَرَامِ فَإِنَّ الرَّسُولَ تَرَكَ الْكَعْبَةَ وَقَالَ (لَوْلَا حِدْثَانُ قَوْمِكِ الْجَاهِلِيَّةَ) وَقَالَ عُمَرُ لَوْلَا أَنْ يُقَالَ عُمَرُ زَادَ فِي الْقُرْآنِ لَكَتَبْتُ آيَةَ الرَّجْمِ. وَتَرَكَ أَحْمَدُ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْمَغْرِبِ لِإِنْكَارِ النَّاسِ لَهَا، وَذَكَرَ فِي الْفُصُولِ عَنْ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْمَغْرِبِ وَفَعَلَ ذَلِكَ إمَامُنَا أَحْمَدُ ثُمَّ تَرَكَهُ بِأَنْ قَالَ رَأَيْت النَّاسَ لَا يَعْرِفُونَهُ، وَكَرِهَ أَحْمَدُ قَضَاءَ الْفَوَائِتِ فِي مُصَلَّى الْعِيدِ وَقَالَ: أَخَافُ أَنْ يَقْتَدِيَ بِهِ بَعْضُ مَنْ يَرَاهُ .

“Ibn Aqil berkata dalam kitab al-Funun, “Tidak baik keluar dari tradisi masyarakat, kecuali tradisi yang haram, karena Rasulullah telah membiarkan Kabah dan berkata, “Seandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan masa-masa Jahiliyah…” Sayyidina Umar berkata: “Seandainya orang-orang tidak akan berkata, Umar menambah al-Qura’n, aku akan menulis ayat rajam di dalamnya.” Imam Ahmad bin Hanbal meninggalkan dua rakaat sebelum maghrib karena masyarakat mengingkarinya. Dalam kitab al-Fushul disebutkan tentang dua rakaat sebelum Maghrib bahwa Imam kami Ahmad bin Hanbal pada awalnya melakukannya, namun kemudian meninggalkannya, dan beliau berkata, “Aku melihat orang-orang tidak mengetahuinya.” Ahmad bin Hanbal juga memakruhkan melakukan qadha’ shalat di musalla pada waktu dilaksanakan salat id (hari raya). Beliau berkata, “Saya khawatir orang-orang yang melihatnya akan ikut-ikutan melakukannya.” (Syekh Ibn Muflih al-Hanbali: al-Adab al-Shariyyah, II, 47).

Menurut al-Utaybi, ulama hampir sepakat (syibh al-ittifaq) tentang kehujjahan pengamalan tradisi baik, berdasarkan al-Qur’an, Sunnah, Kaidah Ushul, dan Kaidah Fikih. Kiai Achmad Shiddiq (1978) dalam Khittah Nahdiyyah menempatkan kebudayaan, termasuk di dalamnya adat istiadat secara wajar, dan harus dinilai dan diukur dengan norma-norma hukum dan ajaran agama.
Islam Nusantara dalam hal pendekatan budaya memilah tradisi yang berlaku di tengah masyarakat menjadi dua bagian, yaitu tradisi baik (urfun shahih) dan tradisi jelek (urfun fasid). Tradisi baik adalah sesuatu yang telah dikenal oleh kebanyakan masyarakat, berupa ucapan dan perbuatan, yang dilegitimasi oleh shari’at (tidak menghalalkan yang haram dan tidak membatalkan yang wajib), atau shari’at tidak membahasnya, yang sifatnya adalah berubah dan berganti. Pengertian ini disebutkan oleh Saad al-Utaybi, dalam Usus al-Siyasah al-Shariyyah:

العُرْفُ الصَّحِيْحُ، وَهُوَ: مَا تَعَارَفَهُ أَكْثَرُ النَّاسُ (وَهَذَا قَيِّدٌ يُخْرِجُ العَادَاتِ الخَّاصَّةَ) مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ اعْتَبَرَهُ الشَّرْعُ؛ أَوْ أَرْسَلَهُ، مِمَّا شَأْنُهُ التَّغَيُّر وَالتَّبَدّل.

“Tradisi baik adalah sesuatu yang dikenal oleh kebanyakan orang (aspek ini mengeluarkan adat-adat kebiasan khusus), berupa ucapan, perbuatan yang dilegitimasi oleh shari’at, atau shari’at tidak membahasnya, di mana karakternya adalah berubah dan berganti.”

Kehujjahan tradisi menurut al-Qura’n, sebagaimana disebutkan Mashum Zain dalam Zubdat al-Qawa’id al-Fiqhiyyah antara lain adalah firman Allah dalam Surat al-A’raf ayat 199, An-Nisa’ ayat 19, Al-Baqarah ayat 236:

خذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ. (الأعراف:199)

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. (QS. Al-A’raf: 199)

Kehujjahan tradisi menurut Sunnah, ditunjukkan melalui hadits marfu dari Abdullah bin Masud, sebagai berikut:

فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئا. رواه أحمد

“Sesuatu yang dipandang baik oleh umat Islam maka hal itu baik di sisi Allah dan sesuatu yang dipandang jelek oleh mereka maka hal itu jelek di sisi Allah.” (HR. Ahmad)

Kehujjahan tradisi menurut Kaidah Ushul, dijelaskan oleh al-Bairi dalam Syarh al-Asybah, sebagai berikut:

الثَّابِتُ بِالعُرْفِ ثَابِتٌ بِدَلِيْلٍ شَرْعِيّ

“Sesuatu yang tetap melalui tradisi adalah tetap melalui dalil syari.” Kaidah ini senada dengan kaidah yang disampaikan al-Sarkhasi dalam al-Mabsuth, juga Wahbah Al-Zuhayli :

الثَّابِتُ بِالعُرْفِ كَالثَّابِتِ بِالنَّصِّ

(Sesuatu yang tetap melalui tradisi seperti sesuatu yang tetap melalui nash). Kehujjahan tradisi menurut kaidah fikih, disebutkan dalam beberapa kaidah sebagai berikut:

العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ (Kebiasaan itu dapat menjadi hukum), الحَقِيْقَةُ تُتْرَكُ بِدَلاَلَةِ العَادَةِ (Hakikat ditinggal karena dalil adat), اسْتِعْمَالُ النَّاسِ حُجَّةً يَجِبُ العَمَلُ بِهَا (Hujjah yang dipakai banyak orang wajib diamalkan), المَعْرُوْفِ عُرْفاً كَالمَشْرُوْطِ شَرْطًا (Yang dikenal sebagai kebiasaan sama dengan syarat), لا ينكر تغيير الأحكام بتغيير الأزمنة والأمكنة (tidak dapat diingkari perubahan hukum itu jika disebabkan perubahan zaman dan tempat).

Selain kaidah-kaidah ini, masih terdapat kaidah-kaidah lain yang disebutkan oleh para ulama. Hal ini menunjukkan legalitas pengamalan tradisi baik, dan bahwa hukum syara’ itu bisa berubah dengan mengikuti perkembangan adat kebiasaan.
Terkait tradisi yang kurang baik, Islam memiliki cara atau metode dalam menyikapinya, sepanjang masih bisa dikompromikan dengan ajaran Islam karena masih sesuai dengan ajaran islam secara umum, maka lebih bijak untuk dijaga dan dilestarikan sebagai identitas bangsa. Detail-detail pelaksanaan tradisi baik tersebut tidak harus sama persis dengan praktek yang ada di zaman Rasulullah, yang terpenting adalah tidak adanya larangan dan unsur-unsur yang menentang syariat (Normatifitas) dan Historisitas (Lokalitas) Islam
Dengan mengikuti tipologi Fazlur Rahman yang kemudian dipopulerkan oleh Amin Abdullah, maka Islam di sini sebagai kerangka normatif, sedangkan Indonesia atau Nusantara sebagai kerangka historis dari Islam tersebut. Dalam kerangka historis itulah, Islam dihayati dalam konteks lokalitas tradisi Indonesia. Islam Normatif bagi Amin adalah Islam yang didasarkan pada wahyu, sehingga wahyu mempunyai karakter normativitas. Sedangkan Islam Historis adalah Islam (normatif/wahyu) yang dihayati dalam dimensi historisitas manusia (Amin Abdullah, 1996: VI).

Pada saat yang sama, dalam menerjemahkan konsep-konsep langitnya ke bumi, Islam mempunyai karakter dinamis, elastis dan akomodatif dengan budaya lokal, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam itu sendiri. Permasalahannya terletak pada tata cara dan teknis pelaksanaan. Inilah yang diistilahkan Gus Dur dengan “pribumisasi Islam”. Upaya rekonsiliasi antara agama dan budaya di Indonesia adalah wajar dan telah dilakukan sejak lama serta bisa dilacak bukti-buktinya. Masjid Demak adalah contoh konkrit dari upaya rekonsiliasi atau akomodasi itu.
Normatifitas Islam dapat juga dimaknai dengan ajaran-ajaran yang berasal dari teks al-Qur’an Hadits secara syarih qat’iyy, maka dalam hal ini tidak ada peluang untuk berbeda, karena dalam wilayah ini tak boleh ada ijtihad yang berkonsekuensi adanya perbedaan pendapat. Para ulama ahli Ushul Fiqh, misalnya Abd al-Wahhab Khalaf (1978) menyebutnya sebagai dalil syarih qat’iyy al-wurud wa al-dilalah. Hal normatif itu ada pula yang disebut sebagai ma’ ulima min al-din bi al-dharurah, mutawatir, atau mujma alayh dharuratan min al-din (Muhammad ibn Alwi al-Maliki, 81).

Ajaran yang terkategori pasti diketahui seperti kewajiban salat lima waktu, zakat, puasa Ramadan, haji, keharaman zina, minuman khamar, dan yang semacamnya, maka manusia tidak boleh taklid atau ikut-ikutan, karena hal tersebut sudah termaklumi. Adapun ajaran yang tak diketahui kecuali setelah dilakukan penalaran atau analisis, seperti ibadah furu’iyyah, mua’malat, pernikahan, dan yang sejenis, maka hal kategori ini boleh ditaklidi (Al-Shairazi, Al-Luma fi Ushul Fiqh, 125).

Baca Juga : Memahami Islam Nusantara Bag 1

Dus, Islam Nusantara yang berpaham Ahlussunnah Wal-Jama’ah berkeyakinan, shari’at Islam bersifat universal (shumuly) untuk setiap lini kehidupan, dalam lintas waktu dan tempat. Kandungan ajarannya terbagi menjadi tiga hal pokok: Pertama, aspek-aspek teologi (ahkam aqaidiyah), mencakup setiap hukum yang terkait dengan Dzat, Sifat, dan keimanan kepada Allah (disebut dengan istilah ilahiyyat); yang terkait dengan para utusan dan keimanan kepada mereka dan kitab-kitab yang diturunkan pada mereka (disebut dengan istilah nubuwwat); dan yang terkait dengan hal-hal ghaib (disebut dengan istilah samiyyat). Aspek-aspek teologi ini dalam disiplin keislaman disebut dengan Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam.

Kedua, aspek-aspek praktik ibadah (ahkam amaliyah), yaitu hukum-hukum yang terkait dengan amal perilaku atau perbuatan manusia. Aspek-aspek hukum ini disebut dengan Ilmu Fikih. Selanjutnya, Fikih terbagi menjadi beberapa bagian dan para ulama berbeda pendapat mengenai hal itu. Namun pada intinya, fikih terbagi menjadi empat bagian pokok: (1) Fikih Ibadah, mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya, (2) Fikih Muamalat, mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, seperti akad jual beli, sewa menyewa, hutang piutang, hibah, pinjam meminjam, penitipan, dan sebagainya, (3) Siyasah Shariyyah, mengatur hubungan negara dengan rakyat, atau satu negara dengan negara lainnya, seperti hukum tentang Baitul Mal, anggaran belanja negara (masharif), hukum-hukum pengadilan, baik pidana, perdata, dan sebagainya, (4) Ahkam al-Usrah atau Ahwal Shakhsiyyah, mengatur hukum privat di dalam keluarga, misalnya pernikahan, perceraian, hak-hak anak, warits, washiat, dan sebagainya.

Ketiga, aspek-aspek budi pekerti (ahkam tahdzibiyah), yang menyerukan manusia untuk menghiasi perilakunya dengan sifat-sifat yang baik (akhlaq karimah) dan menghilangkan sifat-sifat yang buruk. Sifat-sifat baik itu di antaranya jujur, amanah, bertanggung jawab, berani karena benar, menepati janji, sabar, menjaga kelestarian alam, dan sebagainya. Sedangkan sifat-sifat yang buruk itu antara lain adalah berbohong, berkhianat, tidak menepati janji, menipu, merusak lingkungan, dan sebagainya. Aspek-aspek budi pekerti ini disebut dengan Ilmu Akhlak, atau Ilmu Tashawwuf.

Islam Nusantara yang berprinsip Ahlussunnah Wal-Jama’ah meyakini keberadaan ajaran Islam yang statis dan dinamis. Secara umum, ajaran-ajaran Islam itu terbagi menjadi dua, yaitu ajaran statis (shaqqun thabit, atau qat’iy) dan ajaran dinamis (shaqqun mutaghayyir, atau ijtihadiy). Ajaran statis (thabit) adalah ajaran yang tidak boleh diubah dan tidak boleh dikondisikan dengan waktu atau tempat, meliputi pokok-pokok aspek teologi (ahkam aqaidiyah), pokok-pokok aspek ibadah (ahkam amaliyah), dan pokok-pokok aspek budi pekerti (ahkam tahdzibiyah).
Rukun Iman, Rukun Islam, serta mengingkari apa dan siapapun yang disembah selain Allah adalah ajaran yang tidak dapat diubah dan dikondisikan (lihat QS an-Nahl: 36, QS al-Anbiya: 25, dan al-Syura: 13).

Dakwah para Nabi, sejak Nabi Adam alaihissalam hingga Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, pada wilayah thabit ini tidak berbeda dan tidak berubah (lihat QS al-Baqarah: 136, QS al-Baqarah: 285, dan QS Ali Imran: 84). Demikian pula, pokok-pokok aturan ibadah berupa shalat, puasa, zakat, dan haji, tidak dapat diubah dan dikondisikan, kecuali dalam hal-hal parsial (juz-iyyat). Tentang akhlak, hal-hal pokoknya juga tidak berubah, seperti standar perilaku baik dan buruk, yang dikembalikan kepada konsep apakah suatu perbuatan tersebut bertentangan dengan kaidah-kaidah syariat (qawaid shari’ah) atau tidak bertentangan.
Sementara tentang muamalah dan siyasah syariyah dalam berbagai aspeknya, terdapat bagian statis (thabit) meskipun sedikit, dan terdapat bagian dinamis (mutaghayyir) yang bersitaf fleksibel serta dapat disesuaikan dengan waktu dan tempat.

Standar umum dalam praktik muamalah dan siyasah shariyah itu adalah pokok dan kaidah syariat, serta maqashid shari’ah, yaitu tujuan-tujuan shari’at untuk Menghilangkan dan menghentikan sesuatu yang membahayakan (dharar); Memelihara lima hal (kulliyat khams), yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta; Senantiasa memperhatikan alasan-alasan hukum (illah) fikih dalam penetapan hukum; dan memperhatikan maslahat secara umum, baik kemaslahatan untuk mendapatkan sesuatu yang positif atau untuk menghindari sesuatu yang negatif.
Sedangkan ajaran dinamis (shaqqun mutaghayyir) adalah ajaran yang bersifat fleksibel (murunah) dan berkembang (tathawwur) seiring perkembangan kehidupan. Ajaran dinamis ini meliputi hal-hal cabang-parsial (furu’iyyat juziyyat), rincian-rincian dalam pelaksanaan mua’malah dan siyasah shariyyah, yang berada pada wilayah adillah zhanniyyah, wilayah ijtihad, dan silent shariah (hal-hal yang secara rinci tidak dijelaskan oleh shariat). Bagian ajaran dinamis atau shaqqun mutaghayyir ini merupakan ruang luas untuk berijtihad yang berarti pengerahan segenap kemampuan akal seorang mujtahid untuk menerapkan hukum Allah.

Baca Juga : Memahami Islam Nusantara Bag 3 (end)

Baca Juga

Kiai Bisri Syansuri dan Ulama Jombang tentang Hormat Bendera Merah Putih

Denanyar.or.id -Ketika masyarakat menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang dikaitkan dengan pandangan keagamaan, para ulama Nahdlatul Ulama selalu ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *