Minggu , 17 Desember 2017
Home > Kolom > Memahami Islam Nusantara; Perspektif NU (bag 3, end)

Memahami Islam Nusantara; Perspektif NU (bag 3, end)

Oleh : Yusuf Suharto (pengajar di Pondok Denanyar)

Manhaj Fikir Islam Nusantara

Berangkat dari pemaknaan dan sikap terhadap tradisi sebagaimana disebut di muka. Penulis berkeyakinan bahwa Islam Nusantara harus dikawal oleh Nahdlatul Ulama dan muslimin Indonesia, dan tak perlu dikhawatirkan tersusupi faham lain yang menyimpang. Itu semua karena sebuah keyakinan bahwa gagasan ini bagaimana pun keluar dari rahim NU. Bukankah seluruh produk NU itu terikat dengan Qanun Asasi, AD-ART, Fikrah Nahdliyyah, Khittah Nahdliyyah, atau prinsip-prinsip Ahlussunnah Wal-Jamaah? Maka bila berikutnya dalam wacana dan pengamalan Islam Nusantara itu terindikasi melanggar prinsip-prinsip tersebut, secara otomatis wacana dan pengamalan itu batal secara organisasi, dan harus ditinjau untuk direvisi. Karena itu adalah menjadi kewajiban warga NU dan muslimin nusantara untuk mengawal Islam Nusantara ini agar tidak melanggar prinsip-prinsip Ahlissunnah wal Jamaah.

Sebagaimana diketahui bersama, NU didirikan oleh para ulama yang sebelumnya sudah memiliki kesamaan-kesamaan dalam wawasan keagamaan, yaitu dalam panji Ahlissunnah wal Jamaah. Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah satu organisasi keagamaan terbesar yang sangat serius dalam mewujudkan Islam sebagai agama yang rahmatan li al-alamin. Rahmatan li al-alamin ini teraktualisasi dengan baik dalam bungkus Islam Nusantara. Konsepsi Islam rahmatan li al-alamin atau faham Ahlussunnah wal Jamaah dalam NU, atau karakter Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana dijelaskan KH. Achmad Shiddiq dalam Risalah Khittah Nahdliyah (1979: 38-40) adalah tawassut, itidal, dan tawazun. Jika dipadukan dengan Khittah NU berdasarkan Muktamar ke-27 tahun 1984, maka Manhaj Fikir Islam Nusantara itu menjadi sebagai berikut:

Pertama, tawassut atau al-wasatiyyat (moderat) sikap tengah dan lurus yang berintikan prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah kehidupan bersama, dan menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatharruf (ekstrem). Nilai ini disarikan dari ayat al-Quran surat al-Baqarah: 143. Ketika menjelaskan prinsip tawassut dalam bidang antar golongan, Kiai Achmad Shiidiq menekankan agar saling mengerti dan saling menghormati.

Kedua, itidal (tegak lurus), tidak condong kekanan-kanan dan tidak condong kekiri-kirian yaitu diambil dari idilu (bersikaplah adil), pada surat al-Maidah: 9. Dalam konteks aqidah tentang sifat Allah, adalah pertengahan antara al-Muattilah dan al-Mujassimah, dalam perbuatan Allah menengahi antara al-Qadariyyah dan al-Jabbariyyah, dan seterusnya.

Ketiga, tawazun (seimbang), yakni keseimbangan dalam segala hal, dalam istidlal dengan menyeimbangkan antara al-adillah al-naqliyyah dan al-aqliyyah, juga menyeimbangkan pengabdian kepada Allah, manusia, dan lingkungan. Pun, menyelaraskan kepentingan masa lalu, kini, dan akan datang. Nilai ini disarikan dari ayat al-Quran surat al-Hadid: 25.(Muhyiidn Abdushomad, 2004: 4).

Keempat, amar maruf nahi munkar. NU selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan bersama, serta menolak dan mencegah segala hal yang berpotensi merendahkan nilai-nilai kehidupan.

Baca Juga : Memahami Islam Nusantara Bag 1

Kelima, tasammuh (toleran). Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu atau masalah khilafiyyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan. (Bisri Adib, Khittah dan Khidmah NU, 2014, 45).

Keenam, menjadikan Islam sebagai rahmat atau menyebar rahmat kepada seluruh alam (rahmatan li al-alamin). Kiai Achmad Shiddiq menyebut hal ini sebagai bagian dari karakteristik yang paling esensial.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ﴾ (الأنبياء:107)

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya: 107).

Mengawal dan Mencintai Islam Nusantara (Penutup)

Sebagai muslim yang tinggal dan selalu bergelut dengan nusantara, sudah sepatutnya kita bersyukur dengan cara meneguhkan dan membela tradisi keislaman yang telah berkembang baik di nusantara, tentu dengan pemahaman bahwa Islam Nusantara bukan bermakna mengotak-ngotakkan Islam. Islam Nusantara juga bukan sebuah upaya sinkretisme yang memadukan Islam dengan “agama Jawa”, melainkan kesadaran budaya dalam berdakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu kita Walisongo. Islam Nusantara tidak mungkin anti Arab, karena Nabi Muhammad berbahasa Arab dan diturunkan di tengah-tengah masyarakat yang berbahasa Arab, dan bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab.

Dengan demikian, sesuatu yang baik dari tradisi nusantara mesti kita pelihara. Hal ini sesuai dengan kaedah yang masyhur di nusantara, dan antara lain dipopulerkan oleh Kiai Achmad Shiddiq, “al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah”.

Menurut gambaran al-Quran, sesuatu yang baik itu diibaratkan dengan shajarat al-thayyibah yang akarnya menghunjam di dalam bumi. Hal dapat dimaknakan sebagai kesinambungan dengan masa lalu atau tradisi yang baik yang dalam konteks pemikiran adalah pemikiran atau peradaban yang mempunyai pijakan atau akar tradisi. Kemudian dikatakan faruha fi al-sama’, dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit. Maksudnya, pemikiran atau peradaban tersebut harus mampu memahami zaman yang paling kini.
Dan salah satu dari hasil khas Islam Nusantara adalah tegaknya NKRI berdasarkan Pancasila. Dalam pandangan Islam Nusantara, Indonesia adalah darus salam dan Pancasila disarikan dari ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah.

Baca Juga : Memahami Islam Nusantara Bag 2

Karenanya, mempertahankan NKRI dan mengamalkan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan ajaran agama. Pancasila merupakan pengejawantahan dari Islam Nusantara, karena itu nilai-nilai Pancasila harus terus ditegakkan di tengah terjadinya liberalisasi sistem politik, ekonomi serta budaya. Wallahu al-Mustaan.

Baca Juga

Kiai Bisri Syansuri dan Ulama Jombang tentang Hormat Bendera Merah Putih

Denanyar.or.id -Ketika masyarakat menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang dikaitkan dengan pandangan keagamaan, para ulama Nahdlatul Ulama selalu ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *