Selasa , 25 September 2018
Home > Hikmah > Mempertahankan Kurikulum Pesantren

Mempertahankan Kurikulum Pesantren

SISA hidupnya dihabiskan untuk mengabdi di Masjid Nabawi. Tidur dengan alas tikar sekadarnya. Menghidupkan dan mematikan lampu-lampu yang terpasang di sekeliling Masjid pada waktu-waktu tertentu. Dia memutuskan untuk ber-zuhud. Menanggalkan segenap kemewahan dunia dari hatinya. Mengenakan erat-erat pakaian ukhrowi.

Jika dirunut rekam jejaknya, dia pernah menempati posisi mulia dalam suatu negara; Hakim atau dalam istilah arabnya Qadli. Juga pernah menjabat sebagai Wazir.Dengan kehidupan yang serba terbatas, tak membuat sekujur tubuhnya didera berbagai penyakit. Dia tetap sehat, bugar dan segar. Ketika ditanya apa resepnya, ia menjawab, “Barangsiapa yang menjaga tubuhnya dari berbagai perbuatan maksiat pada masa muda, Allah akan menjaga tubuhnya di masa tua”.

Demikianlah secuil potret dari seorang ulama’ besar, Qadli Aby Syuja’. Pengarang kitab Matan Ghayatut Taqrib. Kitab yang banyak disyarahi oleh beberapa ulama terkemuka yang kemudian selalu menjadi rujukan di berbagai Pesantren. Di antaranya, Fathul Qarib, Kifayatul Akhyar, Iqna’, At-Tadzhib dan setumpuk kitab lain.

***

Dewasa ini, sebagian kecil para intelektual muslim menilai kitab-kitab yang dijadikan bahan ajar di Pesantren sudah tidak relevan lagi dipelajari. Pendapat yang meluncur dari bibir mereka berangkat dari sebuah penilitian bahwa kitab-kitab kuning tersebut sudah ketinggalan jaman. Jika disesuaikan dengan era sekarang, materi-materi yang termuat di dalamnya sudah tidak sesuai dengan kondisi yang kita hadapi.

Mereka menuntut para pelajar muslim untuk mengalihkan rujukan mereka yang semula berkutat pada kitab klasik (salaf) menuju kitab-kitab kontemporer atau kekinian.Pasalnya, kandungan dari kitab klasik semisal bab perbudakan (‘itqun), mengusap muzah, jual beli dengan konsep tukar menukar barang dan lain-lain, sudah tak begitu berlaku di kalangan kita. Mereka menawarkan sebuah bahan ajar yang up to date, yang pas dengan ruang dan waktu.

Kitab salaf semacam, Sullamut Taufiq, Fathul Qarib, Fathul Mu’in dan beberapa kitab lain—masih menurut mereka—sudah saatnya untuk dirombak. Kurikulum Pesantren Salaf perlu direvisi. Dan wajah-wajah tradisional sudah saatnya menjelma menjadi wajah modern, yang lebih tanggap dengan masa yang kita jalani sekarang.

Tentu statement ini mengundang respons hangat dari kalangan kita. Pendapat yang mereka suguhkan sepintas membuat kepala kita terangguk-angguk. Akan tetapi, jika kita mau menelusuri lebih panjang, Pesantren tak perlu mengadopsi apa yang mereka katakan. Justru kitab salaf yang selama ini kita pelajari ini lebih berbobot dari buku-buku kontemporer yang mereka tawarkan.

Apa yang sudah penulis tuturkan di atas merupakan salah satu dari sekian banyak gambaran kecil mengenai perilaku sehari-hari penulis kitab-kitab salaf. Selain memiliki kepribadian yang agung, Para Ulama’ dalam menuangkan segenap pengetahuannya dalam karya tulis, sama sekali tidak terdapat unsur royalty, kepopuleran atau niat buruk lain. Mereka benar-benar mengharap ridla Allah secara penuh. Hanya ingin membagikan segenap pengetahuan yang mereka miliki tanpa sedikit pun menyusupkan motif-motif buruk dalam hati mereka.

Kisah serupa bisa kita jumpai dalam cerita penulis kitab Matan Zubad, yaitu Ibnu Ruslan, yang rela melempar mahakarya ke lautan luas lantaran dalam hatinya bersarang sebuah niat, jika kitab itu ditulis dengan ikhlas, maka kitab tersebut tidak akan lapuk oleh air laut, sehingga kalangan luas bisa mempelajarinya. Dan, kenyataannya, kitab tersebut ditemukan oleh seorang pelayan dengan kondisi yang masih utuh.

Dari sini lah, barakah yang didapatkan para santri terbuka lebar. Dengan mempelajari kitab-kitab yang ditulis ulama’ berhati jernih, ilmu yang didapatkan santri lebih memungkinkan untuk bermanfaat bagi diri sendiri maupun kalangan banyak. Dan Pesantren akan tetap kokoh jika masih bertahan dengan konsep yang sudah digagas oleh para leluhur.

Sementara, jika kita menelisik buku-buku Islam modern yang mereka gembar-gemborkan, apakah hati penulisnya berbanding lurus dengan hati para ulama’ salaf? Atau kadar ketaqwaan para intelektual muslim masa kini bisa dikatakan lebih unggul daripada ulama’ salaf? Tentu, tanpa berfikir panjang, kita sudah mempunyai jawaban yang jelas. Rasanya tidak mungkin jika kita mudah mendapat berkah dari seseorang yang tak berjiwa seperti para ‘ulama salaf. Al baraakatu ma’a akaabirikum.

Di sisi lain, para santri juga sama sekali tidak menutup mata terhadap apa yang telah dan akan terjadi. Melalui event Musyawarah, Bahtsul Masail dan sejenisnya, santri masih tetap menyoroti, mengawal ketat dan mampu menjawab problematika yang muncul di era modern ini. Teringat sebuah maqalah Ulama’ yang pernah dikutip oleh KH. An’im F. Mahrus Lirboyo :

الْخَيْرُ بِاتِّبَاعِ مَنْ سَلَفَ، وَالشَّرُّ بِاتِّبَاعِ مَنْ خَلَفَ

“Kebaikan hanyalah dengan mengikuti orang terdahulu. Sedangkan keburukan ialah dengan mengikuti oeang zaman akhir”

(Shofi)

Baca Juga

Ijazah KH Bisri Syansuri

Denanyar.or.id. -Setelah jamaa,ah sholat magrib. KH. Imam Haromain -pengasuh asrama sunan ampel- memberikan ijazah yang ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *