Minggu , 17 Desember 2017
Home > Kolom > Mencari Pahlawan bagi Generasi Milenial

Mencari Pahlawan bagi Generasi Milenial

Oleh : Hasan Chabibie, praktisi pendidikan

Kiai, Inggris datang niku, pripun umat menyikapinya ?” tanya Soekarno, kepada kiai sepuh pengasuh pesantren Tebu Ireng, Jombang. Pesantren di dekat pabrik gula Diwek itu jadi saksi detik-detik menjelang peristiwa dahsyat 71 tahun silam.

Peluru siap berdesing, rakyat dibakar amarah, api kemerdekaan membuncah. Soekarno merasa galau, ketika kemerdekaan yang belum genap putaran tiga purnama, dihantam agresi militer. Pasukan NICA mendarat di pesisir Surabaya, menggertak senyap menyapa nyali Arek Suroboyo.

Kiai sepuh menjawab jernih: “Lho Bung, umat Islam jihad fi sabilillah. Ini perintah perang!” Ungkap Hadratus Syaikh. Soekarno merasa mendapat arahan. Ia mendapat dukungan Hadratus Syaikh untuk tetap tegak menjaga kemerdekaan, membela Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagi Soekarno, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari adalah guru sekaligus panutan, pembimbing dalam situasi genting. Pengarah dari segala kebimbangan arah. Jika HOS Tjokroaminoto membikin Soekarno muda bergolak dalam jiwa pergerakan, Hadratus Syaikh membimbing dalam kematangan. Kiai Hasyim Asy’ari sebagai “Guru Bangsa”, penasihat para pemimpin.

Sama halnya, dengan Kiai Saleh Darat, yang pada lipatan abad sebelumnya mendidik para pejuang. Kiai Saleh Darat menjadi simpul pengetahuan para pejuang: Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ahmad Dahlan, dan sekaligus kakak-beradik ningrat Jepara; Raden Ajeng Kartini dan Raden Sosrokartono. Kiai Ahmad Dahlan mendirikan persyarikatan Muhammadiyah, Kiai Hasyim Asy’ari mengawal Nahdlatul Ulama, Raden Ajeng Kartini sebagai penggerak emansipasi, sedangkan Sosrokartono sebagai cendekiawan dan jurnalis internasional.

Murid-murid Kiai Saleh Darat adalah pejuang bagi zamannya, penjaga api pergerakan bagi komunitasnya.

Syaichona Cholil, yang menjadi simpul spiritual dan pengetahuan di Madura, menjadi jangkar keilmuan bagi para pejuang di Jawa, Madura, dan kawasan-kawasan lain di Nusantara. Murid-murid Syaichona Cholil, menjadi pejuang bagi komunitasnya. Beberapa di antara mereka, saat ini terdokumentasi oleh narasi sejarah dan diabadikan dengan anugrah Pahlawan Nasional oleh Negara. Kiai As’ad Syamsul Arifin, murid kinasih Syaichona Cholil, dianugrahi gelar pahlawan pada 2016 ini.

***

Ketika peringatan Hari Pahlawan dihelat, kita perlu merenungkan tentang orang-orang di balik pejuang. Mereka yang bukan saja mengasah pedang perjuangan, tapi sosok-sosok waskita yang menjadi penerang jalan kepahlawanan. Siapakah mereka? Selain lingkaran internal berupa keluarga terdekat, sosok Guru dan Pendidik merupakan lapisan terdalam dari jejak-jejak panjang para pahlawan.

Sosok guru para pahlawan ini seringkali terdengar lirih, sayup-sayup dari kejauhan. Padahal, jasa pendidik inilah yang membangun pondasi mental, moral dan visi perjuangan para pahlawan kita. Para Guru yang membentengi jiwa para pahlawan kita, sejatinya adalah pahlawan yang sebenarnya. Mereka bersembunyi di balik gelegar tanda penghormatan, menikmati jalur sunyi yang temaram: merawat dan meruwat pejuang bangsa.

Kini, sosok pendidik dibutuhkan untuk menjaga bangsa. Para guru dicari untuk merawat kebhinekaan kita. Bukan untuk mendidik Pahlawan, namun menjadi jembatan bagi kedaulatan Indonesia, menjadi perekat dari segala kelompok lintas etnis, agama dan ideologi. Para pendidik inilah, yang menebar inspirasi bagi generasi kini, generasi milenial yang tumbuh di tengah gelombang media sosial.

Di era revolusi teknologi dan inovasi media sosial, Indonesia membutuhkan pahlawan-pahlawan pendidik yang menginspirasi. Data pegiat internet yang didapatkan penulis, pada 2016 ini, pengguna internet di Indonesia mencapai 132 juta. Dari angka itu, 80 persen di antaranya berusia 18-25 tahun. Mereka yang membutuhkan bimbingan agar tidak terjebak pada perang kata-kata, lautan fitnah dan banjir berita palsu. Inilah era, dimana pendidik menjadi pahlawan untuk menginspirasi anak bangsa, agar tidak terjebak pada kubangan lumpur kebencian.

Jika pada tujuh dekade lalu pahlawan-pahlawan adalah mereka yang berjuang di medan laga. Di era milenial ini, pahlawan-pahlawan pendidikan berjuang menggunakan media sosial dan teknologi informasi untuk menginspirasi gerakan generasi muda supaya menumbuhkan nasionalisme yang tak kalah hebatnya. (*)

Baca Juga

Keragaman itu Indah, Asal tak Saling Menegasikan

Denanyar.or.id -Suatu ketika dalam rangka penggalian data untuk penulisan buku Biografi Kiai Bisri Syansuri, kami ...

One comment

  1. Pahlawan NKRI, pahlawan yang bisa menjadi panutan. Tidak ahanya bisa membela negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *