Minggu , 17 Desember 2017
Home > Hikmah > Nasionalisme dalam Konsep Islam

Nasionalisme dalam Konsep Islam

Kiai Hasyim Asyari, seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, pahlawan nasional, menyatakan bahwa hendaknya umat Islam bersatu padu. Nasehat beliau dalam bahasa Arab ini karena amat pentingnya kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Prof. Dr. Hamka. Di antara ayat yang dikuti Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari adalah surat Ali Imron ayat 103.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Imam Al-Baghawy dalam tafsirnya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan حَبْلِ dalam ayat ini adalah sebab yang menyampaikan pada kehendak. Iman itu disebut حَبْلِ karena iman itu menjadi sebab hilang kekhawatiran. Ibnu Abbas menyatakan bahwa yang dimaksud حَبْلِ اللَّهِ adalah dinullah (agamanya Allah). Ibnu Mas’ud menyatakan bahwa حَبْلِ اللَّهِ adalah al-jama’ah (persatuan). Demikianlah ada banyak ragam makna yang dikemukakan para ahli tafsir (mufassir).

Namun, intinya adalah bahwa sesama muslim adalah bersaudara, karena kita tidak boleh bercerai berai. Dengan persatuan inilah diharapkan kita mendapat petunjuk dari Allah.

Di antara sabab nuzul ayat ini adalah bahwa dulu suku aus dan khajraj adalah satu tunggul nenek moyang. Kemudian kedua suku itu bertikai karena ada persoalan pembunuhan. Hal ini berlangsung hingga 120 tahun. Lalu dengan hidayah Islam kedua suku itu kemudian bersaudara kembali.  Inilah yang dikatakan dalam ayat ini bahwa Allah telah melembutkan hati kedua suku itu, dan karena karunia nikmat Allah, mereka bersaudara kembali. Alhamdulillah.

Tahukah anda? Bukankah di Indonesia ini ada banyak suku-suku, adat istiadat? Benar, bangsa Indonesia terdiri dari beberapa suku, agama, dan golongan. Sungguhpun berbeda-beda, tetapi satu tujuan, yaitu meraih kebahagiaan hidup di dalam bingkai persaudaraan sesama manusia, sebangsa dan se-tanah air, dan sesama pemeluk agama. Kata kunci persaudaraan dan kebahagiaan hidup adalah kerukunan sesama warga tanpa memandang perbedaan latar belakang suku, agama dan golongan, karena hal itu adalah Sunnantullah. Kerukunan adalah kesepakatan yang didasarkan pada kasih sayang. Kerukunan mencerminkan persatuan dan  persaudaraan. Allah berfirman dalam surat al Hujurat ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa supaya kamu saling mengenal (bukan supaya saling membenci). Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di dalam pandangan Allah ialah orang yang paling bertakwa. Allah Maha Tahu, Maha Mengenal”. (Al-Hujurat [49]: 13)

Ayat tersebut ditujukan kepada umat manusia seluruhnya, tak hanya kepada kaum muslimin. Manusia diturunkan dari sepasang suami-istri. suku, ras dan bangsa mereka merupakan nama-nama saja untuk memudahkan, sehingga dengan itu kita dapat mengenali perbedaan  sifat-sifat tertentu. Di hadapan Allah mereka semua satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertakwa.

Ketika pembukaan kota  Makkah, Bilal naik ke atas Kakbah untuk adzan. Seseorang berkata, “Pantaskah budak hitam adzan di atas Kakbah?” “Jika Allah membenci dia, pasti Ia menggantinya,” sahut yang lain. Maka turunlah ayat itu. Menurut riwayat lain, ayat itu turun berkenaan dengan Abu Hind yang akan dikawinkan oleh Rasulullah saw dengan seorang wanita Bani Bayadhah.  Bani Bayadhah pun berkata,

“Wahai Rasulullah, pantaskah kami mengawinkan putri kami dengan bekas budak kami?” Maka turunlah ayat tersebut.

Salah satu kaidah penafsiran Al-Qur’an: al-‘ibratu bi ‘umumillafzhi la bikhushushissabab – pegangan memahami suatu ayat adalah redaksinya yang umum,  bukan peristiwa khusus yang menyertai turunnya. Meskipun ayat itu turun berkenaan dengan Bilal bin Rabah atau Abu Hind,  namun berlaku untuk setiap manusia. Meskipun Al-Qur’an turun pada abad ke 6 M kepada bangsa Arab, tapi berlaku untuk setiap generasi di segala zaman.

Manusia memiliki beberapa dimensi persaudaraan: (1) persaudaraan sesama manusia –ukhuwah basyariyah; (2)  persaudaraan pertalian darah– ukhuwah nasabiyah; (3) persaudaraan perkawinan semenda -ukhuwah shihriyah; (4) persaudaraan suku dan bangsa– ukhuwah sya’biyah; (5) persaudaraan sesama pemeluk agama –ukhuwah diniyah; dan (6) persaudaraan seiman-seagama– ukhuwah imaniyah.

Kita semua disatukan dalam ikatan kebangsaan, dalam ikatan NKRI. Ada pernyataan ulama yang menyatakan bahwa, “Hubbul wathon minal Iman atau Cinta Tanah Air sebagian dari Iman.

Dan seandainya pernyataan ini dirasa kurang kuat. Bukankah pernyataan ini sejalan dengan ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits lainnya. Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menganjurkan kita untuk mencintai tanah air atau negeri kita. Bahkan Nabi Ibrahim di Al Qur’an berdoa kepada Allah untuk memberkahi negeri yang didiaminya. Apa enaknya jika tanah air yang kita diami itu rusak dan penuh peperangan?

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” [Ibrahim 35]

Bagaimana dengan sumber sejarah dan hadits? Nabi senantiasa mencintai negeri yang didiaminya. Sebab jika negerinya rusak, penduduknya juga yang akan menderita. Apa enaknya jika negeri kita sungainya tercemar hingga airnya tak bisa diminum dan udaranya kotor sehingga sulit bernafas dengan baik?

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa saat Nabi diusir dari Makkah beliau berkata: Sungguh aku diusir darimu (Makkah). Sungguh aku tahu bahwa engkau adalah Negara yang paling dicintai dan dimuliakan oleh Allah. Andai pendudukmu (Kafir Quraisy) tidak mengusirku darimu, maka aku takkan meninggalkanmu (Makkah)” (Musnad al-Haris, oleh al-Hafidz al-Haitsami 1/460).

Dan ketika Nabi pertama sampai di Madinah beliau berdoa lebih dahsyat:

 “Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau melebihi cinta kami pada Makkah” (HR al-Bukhari 7/161)

Lihat bagaimana Allah memuliakan tanah air atau negeri sehingga menjadikannya sebagai nama satu surah: Al Balad (Negeri). Tentunya meski di situ adalah Mekkah, bukan sekedar Mekkah saja. Hendaknya negeri yang diberkahi Allah juga negeri tempat kita tinggal.

“Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman” [Saba’ 18]

Loh, tapi kan kita berjuang harus demi Allah. Demi Islam! Kalau demi nasionalisme atau bangsa, berarti matinya adalah jahiliyah.

Wahai Sahabat, tentu tidak senaif itu. Tahukah anda, bahwa berjuang demi bangsa atau nasionalisme, bukan dalam pengertian sempit, sehingga menzalimi muslim yang lain. Ka’ab bin ‘Iyadh Ra bertanya, “Ya Rasulallah, apabila seorang mencintai kaumnya, apakah itu tergolong fanatisme?” Nabi SAW menjawab, “Tidak, fanatisme (Ashabiyah) ialah bila seorang mendukung (membantu) kaumnya atas suatu kezaliman.” (HR. Ahmad)

Tapi jika cinta tanah air itu karena cinta Allah, itu adalah bagian dari Iman. Ini sama halnya dengan mencintai Rasul, mencintai orang tua, mencintai sesama manusia karena Allah. Itu adalah bagian dari Iman. Jadi pemahaman kita harus mendalam soal ini.

Mari perkuat nasionalisme yang merupakan keniscayaan pada masa ini. Mari kita syukuri nikmat merdeka dan berbangsa ini yang merupakan jariyah para pahlwan bangsa, para ulama ahlussunah nusantara. (Yusuf Suharto)

Baca Juga

Ijazah KH Bisri Syansuri

Denanyar.or.id. -Setelah jamaa,ah sholat magrib. KH. Imam Haromain -pengasuh asrama sunan ampel- memberikan ijazah yang ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *