Minggu , 17 Desember 2017
Home > Berita Terkini > Sambutan Atas Nama Wali Murid Dalam Rapat Umum Semester Genap 2017

Sambutan Atas Nama Wali Murid Dalam Rapat Umum Semester Genap 2017

PONDOK PESANTREN MAMBA’UL MA’ARIF DENANYAR JOMBANG 16-7-2017
Oleh Imam Bukhori

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته بسم الله الحمد لله. والصلاة والسلام على رسول الله. أما بعده.
فلاحول ولاقوة الا بالله

Kepada yang terhormat :
KH. Abdussalam Shahib serta Bunyai , dan Dewan Masyayikh Pesantren Denanyar lainnya;

    • Mbah Nyai Hj. Nadziroh Manshur
    • Bu Nyai Mu’ashomah Iskandar
    • KH. Imam Haromain Asy’ari
    • KH. Muhammad Faruq
    • KH. Ahmad Wazir Ali
    • KH. Abdul Wahab Kholil
    • KH. Zainal Abidin
    • K. Mukhlish Amin
    • Beserta para Bu Nyai

….

  • Bu Nyai Hj. Muflihah Shohib Bisri, dan Jajaran pengurus YAMAM
  • Kepala MAN Denanyar Jombang; Drs. Syamsul Hadi, M.Si
  • Kepala MA Mamba’ul Ma’arif ; KH. Zainal Abidin
  • Kepala SMK Bisri Sansuri : H. Mustajab Muhdi, SE
  • Kepala MTsN Denanyar Jombang; Dra. Hj. Farida , MM
  • Kepala MTs mamba’ul Ma’arif ; H. Sugiyanto Rahmat, M.Si
  • Kepala MI Mambaul Ma’arif ; H. Jauharul Afif, Al Hafidz
  • Kepala Madrasah Diniyah : Mujazun, S.Pd
  • Kepala Lembaga Bahasa ; ….
  • Wabil Khusus Para Wali Santri dan Wali Murid MAN semuanya yang sama-sama kita banggakan.

Pertama-tama; mari kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT, dengan bacaan Alhamdulilahi rabbil ‘Alamin, karena pada pagi hari ini kita semua masih diberi rahmat oleh Allah SWT yang berupa taufiq, hidayah dan inayah, sehingga kita bisa berkumpul, bertemu di tempat yang berkah ini dalam keadaan sehat wal afiat.

Saya katakan berkah karena saya yakin di manapun tempat jika di situ terjadi proses thalabul ilmi, proses mahabbah fillah dalam rangka sama-sama menuju Allah SWT, insyaAllah berkah. Semoga kita semua dan para anak-anak kita, santri-santri dan murid-murid yang ngalap ilmu di Mamba’ul Ma’arif ini diberi keberkahan Allah SWT, hatinya difutuh, di buka Allah SWT. Amin ya Rabbal Alamin.
Kedua kalinya; atas nama wali murid dan wali santri saya menyampaikan beberapa hal;

1. Kepada para dewan masyayikh, pengasuh, pengurus Yayasan, pengurus pondok, kepala Madrasah, kepala sekolah dan kepada seluruh guru, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, dan seluas-luasnya atas kecerobahan, kekurangan dan kekhilafan kami para walli murid.

Mungkin selama ini dalam kami menitipkan anak-anak kami kurang memenuhi kewajiban sebagai orang tua/ wali kepada pondok pesantren dan kepada madrasah, sehingga tidak sama sekali seimbang antara apa yang para pengasuh dan kepala dan guru lakukan dengan apa yang kami lakukan.

Mungkin kami-kami para wali murid tidur nyenyak, ngorok kesana kemari, di tengah-tengah para kyai dewan pengasuh shalat tahajjud, njungkung ibadah untuk mendo’akan para santri anak-anak kami semua. Sekali lagi atas ketidak seimbangan itu kami dalam kesempatan ini mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Permohonan maaf yang kedua, kami mintakan maaf kepada para dewan masyayikh, para guru dan kepala madrasah bagi anak-anak kami atas kesalahan, kekhilafan dan kenakalan anak-anaak kami. Tentu selama ini banyak membuaat para kyai dewan masyayikh dan guru-guru kesal, marah bahkan mungkin kecewa. Karena itu kami mohonkan maaf bagi mereka.

Namun demikian kami para orang tua/ wali yakin, bahwa kenakalan anak-anak kami adalah kenakanlan anak. Anak adalah anak. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini. Sehingga kalau toh mereka membuat kesalahan dan kenakalan, adalah karena bagian dari perkemagan psikis dan pemikirannya. Berilah kesempatan mereka anak-anak kami belajar dari kesalahannya.

Biarlah mereka belajar tanggungjawab atas kesalahannya. Berilah mereka kesempatan belajar dari para guru-guru dan kyainya bagaimana marah yang benar, bagaimana menghukum yang benar dan mendidik sesuai syar’an wa adatan.

Untuk itu kami ikhlash atas amarah dan hukuman bapak ibu guru kepada putra-putri kami, karena kami yakin seyakin-yakinnya bahwa itu semua dilakaukan dalam konteks mendidik anak, putra-putri kami, dan untuk itu kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya. Jadi di sini – Para bapak-ibu wali murid dan para guru- tidak ada urusan dengan HAM segala.

2. Tak lupa kami para orang tua/ wali menyampaikan terima kasih atas segala bimbingan dan do’a dari para masyayikh dan dewan guru selama ini. Kami berdo’a semoga apapun yang para kyai dewan masyayikh dan bapak-ibu guru lakukan diganjar Allah SWT dan menyebabkan ilmunya berkah dan manfaat yang kelak akan diunduh di akhirat. Yaitu di hari dimanaa semua amal akan terputus kecuali 3 hal : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih.

3. Mewakili semua orang tua wali murid dan para wali santri, baik santri baru maupun lama, kembali kami memasrahkan putra-putri kami secara bongkoan. Kami sadar betul tugas mendidik anak secara kodrati adalah tugas kami, para orang tua wali. Tapi kami juga sadar benar bahwa tugas ini sugguh sangat berat dan penting.

Kami takut salah didik dan justru putra-putri kami semakin menjauh dari Allah SWT. Saya yakin dan percaya lembaga pendidikan di pondok pesantren Denanyar kompeten untuk mendidik. Karena itu kami titip dan kami pasarahkan putra-putri kami agar dididik dengan baik syar’an wa adatan.

Kami takut karena konsekwensi salah didik ini sungguh berat. Sebagaimana dalam surat al Ahzab 66-68:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا

رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

66. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”.

67. Dan mereka berkata;:”Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar).

68. Ya Tuhan Kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”.

Ayat ini jugu menunjukkan bahwa, hubungan guru-murid, santri kyai, orang tua wali dengan guru dan kyai adalah berdimensi dunia-akhirat. Bukan hubungan duniawi dan transaksional. “ berani bayar berapa”. Tapi hubungan ta’awun fillah dan ukhuwwah fillah.

Apapun yang bapak ibu –para hadirin- berikan kepada para guru dan kyai dalam rangka pendidikan putra-putri kita akan berkonsekwensi di akhirat kelak. Begitu juga apa yang para guru dan kyai didikkan kepada putra-putri kita akan berdampak langsung kelak di akhirat.

Karena itu, maka dalam kesempatan ini, marilah kita bangun kebersamaan. Bahwa kita para orang tua wali dengan para dewan masyayikh dan guru-guru adalah satu tim. Tim untuk sama-sama mensukseskan putra-putri kita. Kesuksesan putra-putri kita adalah kesuksesan guru-guru sekaligus para orang tua.

Kegagalan putra putri kita adalah kegagalan oranag tua sekaligus kegagalan guru-guru. Sekali lagi kita adalah satu tim. Jadi tidak saling menuntut apa lagi menyalahkan. Tapi saling melengkapi dan berkontriusi demi keberlangsungan dan kebaaikan pendidikan di pondok pesantren Denanyar ini.

4. Sebelum terakhir kami berharap dan sungguh-sungguh memohon kepada para kyai dewan masyayikh Denanyar dan para dewan guru, mohon putra-putri kami dan sekalian kami para orang tua mereka, dianggap sebagai santri murid dunia-akhirat.

Dengan demikian kami dan putra-putri kami memiliki sanad keilmuan dengan melalui para kyai masyayikh Denanyar nyambung dengan Mbah Bisri Sansuri. Sehingga kami dan putra-putri kami kelak di akhirat dapat masuk surga bahkan satu kamar dengan rombongan Mbah Bisri. Hal ini sebagaimana ayat dalam al Qur’an surat Atthur ayat 21:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

21. Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka[1426], dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya

[1426] Maksudnya: anak cucu mereka yang beriman itu ditinggikan Allah derajatnya sebagai derajat bapak- bapak mereka, dan dikumpulkan dengan bapak-bapak mereka dalam surga.

Menurut tafsir As Shawy, kata Dzurryyah ( yang dalam Bhs Indonesia anak-cucu) ada dua makna; dzurriyah Binnasab dan Dzurriyah Bissabab. Dzurriyah Bissaabab contohnya adalah hubungan kyai-santri, guru-murid dan hubungna lain yang di situ ada hubungan mahabbah fillah. Sama-sama saling membantu untuk menuju kepada Allah SWT.

Kyai, guru perlu santri dan murid-murid untuk menurunkan, mengamalkan dan menyebarkan ilmunya. Sedang santri, murid perlu kyai, guru untuk belajar, memperbaikii diri untuk menuju kepada Allah SWT.

Nah, para hadirin hadirot hari ini kita berkumpul sebenarnya dalam konteks ini. Kita bangun hubungan kita semua sebagai hubungan mahabbah fillah, saling mencintai dan menyayangi untuk bersama-sama munuju Allah SWT.

5. Terakhir, saya mengajak kepada para orang tua wali untuk menyempatkan diri membaca surat al fatihah bakdal maktubah. Kalau tidaka sempat khususnya setelah maghrib dan shubuh. Kita khususkan kepada para putra-putri kita, agar haatinya difutuh, dibuka Allah SWT. Juga kita khususkan kepada Mbah Bisri dan para pengasuh dewan masyayikh.

Semua ini agar nyambung semua. Apa yang dilakukan putra-putri kita, dan para masyayikh dan para guru dengan kita semua para orang tua wali saling terkoneksi melalui do’a fatihah ini. Dengan demikian insyaAllah segalanya diberi kemudahan oleh Allah SWT.

Adakalanya kita para orang tua wali perlu instropeksi diri, jangan-jangan kendablegan, kenakalan dan kemalasan putra-putri kita (jika ada) ini karena kurang do’a, jangan-jangan uang yang kita kirim kurang halal, dan seterusnya. Karena itu mari kita sama-sama berusaha membersihkan jiwa dan harta kita demi kebaikan, kebermanfaatan dan keberkahan putra-putri kita. Ini semualah hakikat proses pendidikan akhlak dan karakter itu. Dan ini sejauh ini, baru bisa diterapkan di dunia pondok pesantren, khususnya pondok pesantren an nahdliyah.

Demikian yang dapat kami sampaikan, kepada para orang tua wali, saya pribadi mohon maaf jika dalam sambutan peerwakilan ini tidak sesuai dengan keinginan dan aspirasi bapak-ibu. Terima kasih atas perhatiannya, dan mohon maaf atas kesalahan dalam sambutan ini.

Akhirul Kalam ;
و الله الموفق إلى أقوم الطريق والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abu Muhammad Syauqi Ashidiqi
Imam Bukhori

Baca Juga

Pondok Denanyar Juara LSN Regional Jatim II

Denanyar.or.id -Perhelatan Liga Santri Nasional Regional Jatim II telah usai. Setelah pagi tadi (24/08/17) melakoni ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *